Cuti di Rumah Aja

Share

“Pak, minggu depan saya mau cuti 1 hari ya Pak..”

“Mau cuti ke mana emang?”

Pada awal-awal kerja, ketika saya mau mengajukan cuti, pertanyaan balik yang pertama ditanyakan oleh atasan saya adalah cuti ke mana, bukan cuti untuk kegiatan apa. Seolah-olah jika cuti lumrahnya adalah ada kegiatan yang mengharuskan pergi ke luar kota.

Memang saat dulu awal-awal saya kerja, saya bekerja di Kota Medan dan jatah cuti saya selalu saya optimalkan untuk ke luar kota, terutama untuk pulang ke Bandung. Namun makin ke sini, apalagi ketika saya sudah pindah ke Jakarta, saya tidak lagi mengalokasikan cuti secara khusus untuk pergi ke luar kota.

Dulu saya mendapatkan jatah cuti tiap tahunnya 12 hari, dan 3 tahun sekali saya mendapatkan jatah cuti 26 hari. Lalu sekarang saya mendapatkan jatah cuti 17 hari setiap tahunnya (flat). Untuk cuti 12 hari dalam setahun, mungkin dulu saya ngerasanya ngepas banget. Apalagi dulu belum menikah / punya anak dan bekerja di luar pulau dari kampung halaman. Sehingga, jika ada jatah cuti saya cenderung mengoptimalkan untuk ke luar kota, baik liburan maupun pulang kampung.

Namun makin ke sini, apalagi sudah memiliki anak, saya merasa cuti lebih optimal di rumah saja. Pernah pada saat memiliki jatah cuti 26 hari, saya mengambil 1 hari cuti di hari Selasa/Rabu tiap bulannya secara rutin hanya sekedar ingin quality time di rumah. Karena di luar itu, saya masih ada sisa 14 hari jika kami ingin pergi ke luar kota atau ada sesuatu yang urgent. Kalau sampai akhir periode cuti tidak ada rencana ke luar kota atau hal yang urgent, saya ambil cuti untuk di rumah aja. Pada pertama kali mengajukan cuti untuk di rumah saja (dan rutin), atasan saya sempat bingung dan hampir tidak mengijinkan, setelah menjelaskan akhirnya bisa dipahami.

Cuti adalah istirahat tahunan, artinya kita beristirahat dari pekerjaan rutin kita di kantor dengan harapan pada saat bekerja kembali kita bisa lebih fit dan fresh secara fisik maupun mental. Ketika saya pergi ke luar kota, setelah kembali dari luar kota tersebut biasanya saya perlu 1-2 hari untuk istirahat/beres-beres sebelum masuk kerja. Saya perlu mengalokasikan 1-2 hari tambahan selain hari perjalanan.

Pada prinisipnya, mau ke luar negeri, ke luar kota, ada kegiatan di dalam kota, ataupun di rumah aja, cuti adalah hak Pekerja. Jangan sampai karena kita bingung mau ke mana, kita jadi tidak mengambil hak cuti kita. Jangan sampai juga, karena kita cutinya tidak kemana-mana / di rumah aja, atasan / rekan kerja menganggap kita bisa selalu on duty terkait pekerjaan. Terlebih jika perusahaannya menerapkan WFH yang biasanya tidak ada batasan jam kerja yang jelas dan berharap respon cepat setiap saat.

Apalagi di masa pandemi ini, anjuran Pemerintah atau Perusahaan adalah seperti cuti dan libur Natal dan Tahun Baru ini untuk tidak kemana-kemana alias di rumah aja, untuk menghindari penyebaran Covod-19. Mari kita manfaatkan cuti di rumah aja, bisa untuk beres-beres rumah, belajar atau berkarya hal baru di rumah, nonton drama/film, ataupun quality-time bersama keluarga.

Bagikan tulisan ini:

mozuqi

Mohammad Zulkifli Falaqi. Biasa dipanggil Zul. Saat ini sedang mencari sesuap nasi di ibukota sebagai buruh yang ngurusin organisasi dan SDM di perusahaan yang bergerak di bidang energi. Menulis apa saja yang terlintas di pikiran.

You may also like...

Leave a Reply